Masih teringat dan akan selalu teringat.

 Iya....masih saja aq teringat. Rasa sakit ini,terasa begitu membekas. Dari mulai dia yang pertama memberiku luka,hingga dia yang kini menjadi pendamping hidupku. Ya..suamiku yang kedua. 

Luka yang dulu belum hilang,kini ditambah luka yang baru. Rasanya sama..tapi berbeda dalam balutannya. Sering aku menangis dalam diam,merasakan sakitnya hidup berumah tangga. Kadang aku berfikir seolah rumah tangga ini hanyalah topeng. 

Apakah aneh jika seorang wanita/istri minta diberi perhatian oleh suami,atau hanya sekedar bercanda atau hanya sekedar berbicara layaknya suami istri?!? 

Tapi..berbeda dengan suamiku. Dia pendiam,tertutup. Aku tau itu sifatnya. Tapi sebegitukah terhadap istrinya? Saat istri bertanya ini itu, jawabnya seolah tidak merespon. Atau mungkin tidak perlu dijawab. Atau memang tidak penting. Dijawab pun nadanya sangat lirih..dan cuma sepatah kata. Iya,tidak,ga tau,terserah. Setiap hari hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Coba bisa dibayangkan,seharian di rumah bersama suami,tak ada pembicaraan,tak ada bercanda,tak ada saling menyapa. Sungguh saya seperti hidup seorang diri. Ada suami,tapi seperti tidak ada. Ada cuma waktu malam tertentu..yaa..saat bercinta. Itu saja!!! 

Pernah sekali kita ngobrol itu pas bertengkar aja. Yaa..kalau pas bertengkar,dia lancar ngomong. Seolah olah itu semua saya yang salah. Saya yang ga bisa memahami,saya yang mulai pertengkaran. Padahal hanya masalah sepele. Ya..itu..itu semua dikarenakan kurangnya komunikasi antara kita berdua. Saya sudah berusaha berkomunikasi sejauh mungkin. Tapi suami yang susah. Kan ujung2nya istri hanya bisa memendam perasaannya. Ibarat ember yang selalu terisi dengan air tanpa pernah digunakan airnya. Penuh dan meluap. Dan masih bisa bilang itu salah istri...hahaha. Lucu kan?

Bersambung...


Comments